Menjadi pendengar yang baik

Tadi pagi di jalan ke kantor dengerin PAS FM, ada sharing pak Tanadi Santoso. Topik yg dibahas seperti judul diatas. Saya sendiri sudah mempraktekkan semua kecuali (jarang) poin 3:

  1. Eye contact. Usahakan selalu melihat ke orang yang berbicara ke kita, jangan sambil lihat HP atau mata perhatiin yang lain. Memandang orang yang berbicara dengan kita, tandanya kita perhatian atas apa yang dia ucapkan. Saya pernah berkenalan dengan teman istri yg notabene udh boss, sebetulnya orangnya asik, tapi sayang kalo ngobrol atau salaman matanya ngga ke lawan bicara tapi sibuk lihat HP. Tangan kanan salaman, mata lihat tangan kiri yang pegang HP. Yang kayak gini sih kelaut aja.
  2. Don’t cut the conversation. Paling sering kalo lagi diskusi adaaa aja yang suka motong pembicaraan orang. You know what? Cuma orang keras kepala atau cari perhatian yang suka motong pembicaraan orang, saya ngga pernah lihat sisi positif orang yang potong pembicaraan orang, kecuali dalam ajang debat kusir. Ini juga salah satu indikator kalo kita perhatian atas apa yang orang lain sampaikan. Give ’em pause, bro. Setelah itu bolehlah kalo mau sampaikan apa yang ada di kepala kita.
  3. Clarify. Bukan berarti kita nggak ngerti, tapi itu menandakan kita menangkap apa dia sampaikan, hanya butuh sedikit kejelasan. Misal: Maaf pak, maksudnya minggu ini atau minggu depan?
  4. Anggukkan kepala (I havent found the words in English). Intinya sih dengan anggukan kepala menandakan kita ‘setuju’ dalam tanda kutip memahami dan mengiyakan apa yg disampaikan. Karena tanpa sadar, sebetulnya orang yg berbicara memperhatikan kita dan merasa audience (kita yg mengangguk – in general) menerima penyampaiannya.
  5. Feedback. Dengan memberikan umpan balik artinya kita sudah paham apa yang disampaikan dan bisa memberikan value yg lebih ke pembicara, bisa berupa info, masukan atau kritik yang membangun. Jangan sampai feedback nya ngga nyambung, contoh: lawan bicara kita bicara tentang teman kerjanya yg resign, eh terakhir kita tanya: “Disana ada lowongan ngga?” hehe. Masih nyambung sih, tapi ngeselin hahaha.

Dalam konteks mendengar curhatan orang, 5 hal diatas menjadi sensitif, artinya jika dia sudah menaruh trust ke kita, and we suppose to not only understand what does he/she means, but also put ourselves in his/her position. Dan pada akhirnya bisa menjadi pemberi saran yang baik, bukan lagi sekedar pendengar.

Diatas itu semua, ini menurut saya, jika ada orang yg cerita ke kita, sebenernya mereka hanya ingin di dengar saja. Belum tentu mereka butuh masukan, kecuali mereka minta. Tapi kadang kita sok tau duluan, malah justru menghilangkan sikap respek dia ke kita (pengalaman pernah di posisi ini) :)

Hanya sekedar catatan aja sih, pengingat buat saya.

Happy Monday!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s