Tempayan yang retak

Having absence for several months from blogging activity, I really missed it up. But sometimes I don’t know what should I write on my blog. All of my activities seems like nothing than other bloggers.

Oh yeah, this is I have some older post I got from my office, hope you’ll like the story, it was inspiring me out. Its title: Tempayan yang retak. Just like above title. But sorry, all of the story written in Indonesian. So, I put this posting on Ind-glish category, means: Indonesian-English or half Indonesian and half English..such a Singlish(Singaporean-English) haha.. :D

Here comes, I copy paste from the paper. Have a nice read :)

Kisah Tempayan yang Retak
Pada suatu daerah di kaki bukit yang hijau dan sejuk, ada seorang tukang air yang begitu tekun bekerja
mengambilkan air kepada tuannya…..
Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah
pikulan, yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan
yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah
perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan itu hanya dapat membawa air
setengah penuh. selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari, si tukang air hanya dapat membawa satu
setengah tempayan air ke rumah majikannya.
Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan
tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan
ketidaksempurnaanny a dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang
seharusnya dapat diberikannya.
Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air,
“Saya sunggh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu.”
“Kenapa?” tanya si tukang air, “Kenapa kamu merasa malu?”
“Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat
saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang
jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi.” Kata tempayan itu.
Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata,
“Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di
sepanjang jalan.”
Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada
bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan dan itu membuatnya sedikit terhibur.
Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan
kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya.
Si tukang air berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di
sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak
retak itu? Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah
menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari
mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga
indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak
akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.”
Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak.
Namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias-Nya. Di mata Tuhan
yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah
kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahan Tuhan. Ketahuilah, di dalam kelemahan
kita, kita menemukan kekuatan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s