Ketika komitmen menjadi sebuah keterpaksaan

Warning: Tulisan ini hanyalah tulisan tidak penting. Bagi anda yang tidak terlalu interest atau tidak setuju dengan pacaran, apalagi ekstrimis yang anti pacaran, sebaiknya stop sampai sini, karena saya tidak menjamin artikel saya ini bermanfaat buat anda. Apalagi yang sudah berkeluarga(karena sudah lewat masanya). Posting ini lumayan panjang, ngetiknya saja capek. Jadi kalo anda tidak punya cukup waktu luang atau bandwidth terbatas, sebaiknya tidak perlu dilanjutkan, karena sekali lagi, ini postingan yg tidak penting, hanya sharing saya saja.

Selama tiga hari belakangan ini, ada 3 teman dekat saya yang curhat mengenai pacarnya. Masing2 punya alasan yang berbeda2 dalam menyikapi pacarnya.

Yang pertama sebut saja P, pria lajang berusia 26 tahun, dia curhat kepada saya mengenai pacaranya yang sudah lama di pacarinya. Mungkin kira2 sudah 3tahun lebih. Karena posisinya saat ini sedang tidak mempunyai pekerjaan alias jobless, maka pikiran2 negatif selalu menghantuinya. Mulai dari umurnya yang sudah semakin menua, hingga kerjaan yang tidak kunjung menghampirinya. Ditambah lagi dengan sikap pacarnya (pacarnya saat ini sudah bekerja kurang lebih sekitar 2tahunan lebih) yang tidak pernah bisa meyakinkan si P bahwa dia adalah yang terbaik yang akan menjadi calon istrinya kelak. Sebenarnya permasalahan yang di hadapi P sederhana, karena pacarnya (yang kelak menjadi calon istrinya) ini belum siap dan belum mau memakai penutup aurat, alias jilbab. Padahal si P ini menginginkan pacarnya memakai jilbab sudah sejak lama, tapi hingga sekarang tidak pernah ada realisasi. Selalu berakhir dengan alasan belum siap, atau belum waktunya atau belum cukup iman atau belum2 yang lain, yang pada akhirnya hanya membuat si P ini makin dongkol saja, karena harus menunggu sekian lama dan tidak ada kepastian dari pacarnya kapan akan memakai jilbab. Sebab, seandainya pacar si P ini yakin dan niat 100% bahwa dia siap menjadi pendamping hidup si P dan siap memakai jilbab demi menutup auratnya dan demi rasa cinta kasihnya kepada si P, mungkin urusan si P selesai sampai disini, tinggal bagaimana menghalalkannya saja (baca:menikah) dan mencari pekerjaan yg tetap. Si P sendiri pernah mengucapkan itu kepada saya, jika saja pacarnya itu bisa meyakinkan dia untuk memakai jilbab, maka saat itu juga mungkin dirinya akan segera secepatnya menentukan tanggal pernikahan dengan pacarnya. Wow! ajaib bukan? sebuah jilbab bisa merubah keinginan seseorang dalam sekejap :) Wajar saja, karena si P ini memang berasal dari kalangan pesantren, jadi ilmu agamanya juga sudah mumpuni dibanding saya. Dan bukan hal yang aneh jika orang2 seperti P mengharapkan wanita impiannya yang kelak menjadi istrinya adalah wanita yang perfect (menurut pandangan nya), mungkin salah satu ukuran perfect buat si P adalah jilbab tadi itu.

Yang kedua adalah si D, wanita lajang berusia 26 tahun, yang saat ini sedang dalam kebimbangan. Apa pasal? Pacarnya yang berusia 29 tahun tidak kunjung menseriusinya dalam pacaran, dan kadang sifat pacarnya ini seperti anak kecil yang masih butuh perhatian selalu. Kondisinya hampir mirip, pacarnya D adalah seorang pemuda yang belum bekerja, entah karena terlalu pemilih dalam pekerjaan, entah karena memang belum rezekinya. Yang pasti menurut si D, pacarnya hanya mau bekerja di tempat yang bonafid, gaji gede dalam waktu singkat? (Hehe..mimpi kali yee) Dan sekarang gaya hidup pacarnyapun berubah 180 derajat, kalau dulu si D ini suka pacarnya (pada saat PDKT/pendekatan) karena dia orang yang sederhana, padahal pacarnya ini terlahir dari keturunan orang tajir, sekarang atribut sederhana sudah tidak lagi melekat pada dirinya. Gaya hidupnya sudah high class (walaupun belum bekerja), jadinya si D agak sulit untuk mengimbanginya, berhubung si D ini adalah orang yang biasa2 saja.
Pada saat yg bersamaan si D sedang ada yang mendekati (cowok pastinya hehe), dan saat ini hubungan mereka sudah lebih dekat dari teman. si D merasa nyaman dengan cowok barunya, sedangkan cowok lamanya masih saja tidak peduli dengan si D.
Masalahnya adalah, si D sangat takut sekali bermain hati(jadi ingat lagunya Andra), mungkin kalo jomblo tidak masalah, tapi ini kondisi si D sudah punya kekasih.

Lain lagi dengan sahabat saya si I, pria lajang berumur 27 tahun, yang saat ini sedang jatuh cinta pada wanita lain di kantornya. Padahal dia sendiri sudah punya pacar yang sudah di pacarinya sejak SMP (10 taun bo, gila gak tuh, pacaran sampe 10 taun? hehe..). I mengatakan kalau dia sayang bgt sama pacarnya, tetapi selalu saja pacarnya membuatnya ilfil. Contohnya adalah pada saat I membelikan hadiah ultah buat pacarnya, sepatu Puma yang katanya harganya 1 kali gaji si I, “modelnya, bentuknya, bahanya, pokoknya keren deh abis tuh sepatu..” begitu katanya, tapi apa di nyana? pacarnya tidak pernah menggunakan nya dan model yang sudah di pilih I tidak disukai oleh pacarnya. Hohoho..kalo sudah begini siapa yang kecewa? Beda dengan teman wanita di kantornya yang hobinya, kesukaannya, dan segala macem mirip dengan dirinya, contohnya si I ini suka musik aliran Radiohead, dan si teman wanitanya juga suka, suka bgt. Permasalahannya adalah, si I sudah punya pacar dan dia sayang bgt ke pacarnya, tetapi selalu saja pacarnya itu menghempaskan dirinya karena segala sesuatu yang diberikan selalu saja di tanggapi dengan negatif dan seakan kurang menghargai. Sekarang ada wanita yang punya keunikan yang sama dengan si I, tetapi si I hanya bisa memendam dalam diri saja rasa cinta nya kepada wanita teman kantornya itu, sehingga sampai sekarang dia hanya menjadi korban perasaan saja, baik oleh pacarnya, maupun dirinya sendiri.

Ketiga teman saya diatas adalah sahabat saya semasa kuliah, saya kenal juga dengan setiap pacar masing2. Dari ketiga cerita diatas, saya mengambil kesimpulan bahwa komitmen yang dibangun berdasarkan lamanya waktu tidak menjamin seseorang bisa menjadi apa yang diinginkan oleh pasangannya(baca: pacarnya). Satu hal yang membuat saya gerah setiap kali adalah, orang yang sangat tidak pengertian sekali ke pasangannya, jika tidak bisa memuhi keinginan pasangannya, atau tidak suka atas pilihan pasangannya, atau tidak bisa membuat pasangannya senang, paling tidak ada usaha gitu loh kearah sana.

Kenapa hal itu bisa sampai terjadi? bukankah jika memang mereka benar sayang, harusnya dibuktikan juga dengan tindakan(bukan suatu keharusan, tapi paling tidak ‘ngerti’lah). Asumsi saya, berpacaran adalah suatu aktifitas untuk melatih kita untuk berkomitmen, entah dengan seseorang entah dengan apa yang sudah diucapkan atau apapun. Ketiga teman saya pada dasarnya mencoba untuk menjaga komitmen yang telah mereka bangun, tetapi ada hal yang menjadi ganjalan mereka, dan ini sudah disampaikan kepada masing2 pacar mereka, tetapi sayangnya hanya jadi angin lalu bagi pacar2 mereka, karena bisa jadi mungkin hal tsb tidaklah penting bagi mereka atau merasa apa yg di korbankan atau apa yg didapat sudah cukup untuk menyenangkan hati pasangannya tanpa mau menggali lebih dalam kebutuhan pasangannya.

Oke saya bisa menerima bahwa pacaran bukan sebuah komitmen yang harus dijalani secara serius, dalam artian pacaran tidak perlu diseriusi terlebih dahulu atau jangan terlalu berharap banyak dalam sebuah hubungan yang disebut pacaran, karena jika pada akhirnya akan merugikan salah satu pihak, itu bukan tipe pacaran yang benar menurut saya. Tipe pacaran yg benar memang seperti apa? Tidak ada aturan baku, tapi IMO, yaitu yang tidak merugikan kedua belah pihak dalam menjalaninya walaupun pada kenyataannya mungkin ada, tapi masih bisa di minimalisir. Dalam hal ini keterpaksaan dalam menjalani hubungan yang dialami ketiga kawan saya, bisa menjadi bom waktu bagi pasangannya (pacarnya) sendiri yang gagal memahami isihati ketiga kawan saya itu.

Bukankah pacaran adalah suatu proses belajar memahami orang lain atau belajar berkomitmen (baik kepada orang lain maupun komitmen atas apa yang sudah pernah diucapkan) atas apa yang kita yakini?

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s