Kenapa saya benci pakai Esia

Setelah blogwalking kesana-kemari, saya menemukan fakta bahwa: saya juga punya kembaran di dunia maya sesama blogger, namanya mas Bambang Priambodo, alamat weblog beliau di http://bambangp.dagdigdug.com, hehe..salam kenal ya mas.

Dan ternyata, bukan hanya kesamaan nickname yang digunakan (sama2 bambangp.domain.com), saya juga sependapat dan punya pikiran yang sama dengan alasan beliau, kenapa tidak mau menggunakan esia sampai sekarang. Jika anda sudah membaca postingan mas Bambang Priambodo disini dan disini serta sumber berita lain tentang lapindo dan sumbersumber lain nya, jawaban yang dapat saya berikan hampir bisa dipastikan 100% sama dengan jawaban mas Priambodo.

Karena ‘si bos’ sendiri gak mau ganti rugi dan bertanggung jawab atas kerugian yang di sebabkan oleh anak perusahaan nya, Lapindo inc kepada rakyat korban lumpur Sidoarjo.

Mungkin agak idealis di jaman yang sudah modernisasi dengan beragam kemudahan dan kemurahan telekomunikasi seperti ini, tapi (sekali lagi ngutip kata2 mas Priambodo) buat apa juga saya mengeluarkan uang kalo uang yang saya keluarkan hanya masuk kembali ke kantong mereka tanpa mereka mau bertanggung jawab terhadap kerugian yang di timbulkan?

Andai mereka ini ada di posisi para korban bencana lumpur lapindo, mungkin mereka juga akan merasakan bagaimana rasanya menjadi korban lumpur. (Lagi2 mengutip kata2 mas Priambodo) Kalo di tanya, apa urusan lu? ya inilah salah satu kampanye saya dan salah satu bentuk selemah2nya iman yang bisa saya ungkapkan atas kezaliman lapindo terhadap rakyat yang menjadi korban lumpur.

Jadi mulai sekarang, buat temen2 saya yang punya esia, plis deh ah..stop nanya2 nomor esia saya berapa, karena saya tidak mau dan tidak akan pernah mau punya nomor esia. Lagian tarif GSM jaman skrg udah murah2 bos, tinggal pilih aja mau pakai yg mana.

IMHO, mungkin bagus jika ada operator dengan tarif murah (1000 per jam), tapi bukankah dengan begitu akan lebih membuat bangsa kita lebih konsumtif? sedikit2 telepon, belum seminggu udah beli pulsa lagi, apalagi kalau obrolan nya udah nggak penting (ini subyektif saya saja berdasarkan teman2 saya kebanyakan). Ujung2nya saya disuruh pakai esia juga, dengan alasan agar telepon sesasama lebih irit atau lebih murah jadi bisa ngobrol puas, ini yang membuat saya benci, kenapa harus dipaksa pakai esia? Huh..sori ye. Menurut salah satu pendapat teman saya, esia cuma dipakai untuk orang yang masih pacaran atau single. Hehe..sebuah pendapat yang subyektif, arogan tetapi battle proven juga. CMIIW.

Tarif murah is OK, tapi harus dibarengi dengan sikap kepedulian sosial sang bos dalam menghadapi masalah negara seperti ini, apalagi ini kelalaian salah satu anak perusahaan nya. Saya sangat appreciate sekali kalau beliau ini juga punya sikap bertanggung jawab atas kesalahan yg dibuatnya.

Sekali lagi, pendapat saya diatas sangat subyektif sekali loh, jadi kalau anda tidak setuju, ya monggo di utarakan saja.

3 Comments

  1. salam kenal juga boss,,

    masih banyak CDMA selaen Esia yang lebih murah, bertanggung jawab, pelayanan memuaskan, dan sinyal kuat,,

    ngapain pake esia klo cuma ikut-ikutan?mulai dari diri sendiri,,,

    boikot Esia,,,

    saya selalu mengupdate masalah kebobrokan esia dari sumber laen,,,

    bantu juga yaA,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s